Pagi itu, saya duduk di sebuah kafe yang baru buka di Malang. Masih harum bau semen, mungkin baru dua minggu dibuka. Tapi anehnya, sudah ramai saja. Anak-anak muda nongkrong. Ada yang buka laptop, ada yang cuma ngobrol. Saya memesan kopi dan duduk di pojok, tempat paling enak untuk mengamati.
Lalu datanglah mereka: seorang bapak dan dua remaja laki-laki. Sepertinya anaknya. Usia baru masuk SMA, mungkin. Mereka tak langsung memesan. Sang bapak malah mengajak keliling. Menunjuk layout ruangan, tempat kasir, arus masuk pengunjung, bahkan ke bagian dapur yang terbuka sebagian. Mereka duduk tak jauh dari saya. Nguping? Bukan. Saya menyebutnya “riset pasar alami”.
Ternyata si bapak ini sedang mengajarkan bisnis kepada kedua anaknya. Tapi bukan dari buku. Bukan pula dari seminar mahal di hotel bintang lima. Ini langsung dari lapangan. Live. Dia meminta anak-anaknya menilai: kenapa kafe ini ramai? Apakah menunya unik? Apakah pelayanannya cepat? Bagaimana pengelolaan tempat duduk? Anak-anak itu mencatat. Serius. Lebih serius daripada mahasiswa yang saya temui saat ujian skripsi.
Saya jadi tersenyum sendiri. Karena saya juga pernah di posisi bapak itu. Anak-anak saya, sejak kecil, sudah saya ajak ke kantor. Kadang mereka cuma main di ruang meeting. Kadang mereka gangguin staf saya yang lagi kerja. Tapi saya biarkan. Karena mereka perlu tahu, dunia “kerja” itu seperti apa. Bahwa ada yang namanya rapat, ada yang namanya target, ada yang harus pulang malam karena deadline.
Dan sebenarnya, sebelum itu semua, saya sendiri pun tumbuh dari pengalaman serupa. Papa saya bukan pengusaha. Beliau karyawan swasta. Tapi punya kerja sampingan sebagai kontraktor kecil. Proyek bangunan skala rumahan. Saya sering diajak ikut ke lapangan. Kadang diminta bantu hitung gaji mingguan tukang. Saat itu belajar dari coretan angka dan catatan di buku, bukan dari Excel, karena komputer saat itu sangat mahal bagi kami. Dan ada satu momen yang sampai sekarang tak saya lupa: waktu saya kelas 1 SMP, papa sedang kerjakan proyek yang deadlinenya mepet luar biasa. Saking mepetnya, tukang harus lembur 3 shift. Tukang kerja siang-malam, 24 jam non-stop. Papa tak bisa jaga proyek terus karena harus kerja di pabrik masuk shift malam jam 22.00 – 06.00 pagi. Maka saya, yang masih bocah SMP, diminta jaga tukang malam-malam. Saya temani mereka kerja sampai jam 1 pagi. Padahal, paginya saya ujian matematika.
Saya tidak merasa disuruh atau dipaksa saat itu. Mungkin karena saya sudah terbiasa. Tapi pelajaran yang saya dapat, itu tak pernah saya lupakan: bahwa kerja keras itu nyata, kadang melelahkan, kadang tak masuk akal, tapi selalu meninggalkan bekas. Bukan hanya pada dompet, tapi juga pada cara kita memandang dunia.
Waktu anak-anak saya setara SMP (anak-anak saya semuanya homeschooling), saya beri tantangan kecil. Coba bisnis kuliner : mulai jualan cilok hingga makanan kemasan. Coba jualan online. Coba bikin konten edukatif. Hasilnya? Ya… kadang rugi. Kadang capek sendiri. Tapi itu bukan soal untung rugi. Yang penting mereka belajar. Merasakan. Menyentuh langsung denyut nadi dunia usaha.
Saya tidak sedang mencetak mereka jadi pengusaha. Tidak. Itu pilihan mereka nanti. Tapi saya ingin mereka punya pemahaman dasar. Supaya kalau nanti jadi apa pun—dokter, seniman, guru, pejabat—mereka tahu bagaimana nilai sebuah usaha dibangun. Bahwa di balik harga semangkuk mie instan di kafe itu, ada hitungan sewa, gaji karyawan, margin, dan strategi positioning.
Saya tak tahu siapa bapak yang duduk di meja sebelah itu. Tapi saya ingin menyapanya. Karena kami punya misi yang sama: memperkenalkan realitas kepada anak-anak. Dengan cara yang tidak menggurui, tapi mengajak. Tidak memaksa, tapi menuntun. Semoga saja, saat mereka dewasa nanti, mereka tetap ingat pelajaran yang diberikan di meja kopi suatu pagi di Malang ini.