Runtuhnya Era Arogansi di Industri Luxury

posted in
on
by

Ada satu hal yang bergeser pelan-pelan di dunia barang mewah. Dulu rumusnya sederhana. Pasang harga setinggi mungkin. Buat toko yang terasa angker. Rilis kampanye dengan model bertatapan dingin. Semakin sebuah brand terlihat sulit dijangkau, semakin pasar menginginkannya.

Orang rela menabung berbulan-bulan demi satu barang. Bahkan menggesek kartu sampai limit. Bukan karena butuh, tapi karena ingin diakui. Jarak itulah yang dulu memberi kekuatan. Makin jauh brand berdiri, makin tinggi ia terlihat.

Tapi coba pakai cara itu utuh-utuh hari ini. Hampir pasti gagal.

Konsumen sekarang sudah lelah. Mereka melewati inflasi, pasar yang tidak pasti, dan satu hal yang paling terasa: kelelahan terhadap nilai. Kalau sebuah brand cuma menaikkan harga tiap tahun tanpa menambah apa pun yang baru, pasar mulai sinis. Mereka bertanya pelan-pelan. Uang sebanyak ini sebenarnya untuk apa? Untuk kualitas, atau untuk membayar ego foundernya? Pertanyaan itu dulu jarang muncul. Sekarang muncul di mana-mana.

Kelas atas tetap haus kualitas, estetika, dan barang yang tidak pasaran. Itu tidak berubah. Yang berubah adalah cara mereka membaca status. Status hari ini bukan lagi soal siapa yang sanggup membeli barang paling mahal di etalase. Status hari ini soal selera. Soal seberapa lancar seseorang membaca budaya. Orang dianggap punya kelas ketika ia paham cerita di balik sebuah karya, mengerti referensinya, dan berani memakai sesuatu lebih dulu sebelum ramai. Bukan karena ikut tren, tapi karena mengerti.

Media sosial juga sudah merobohkan tembok eksklusivitas itu. Brand tidak bisa lagi bersembunyi di balik pintu ruang VIP. Begitu sebuah produk keluar, ia langsung dibedah, dipuji, atau dihabisi secara terbuka. Kalau modalnya cuma jaga jarak tanpa kedekatan emosi, ia tidak terlihat mewah. Ia hanya terlihat tua.

Lalu apa yang dilakukan brand-brand tua ini? Mereka banting setir. Mereka mulai memakai cara yang dulu dianggap haram di dunia mewah. Berkolaborasi. Bermain nostalgia. Membuat kampanye yang lebih ringan dan lebih hangat. Tujuannya bukan turun kelas. Tujuannya merobohkan dinding emosi, supaya dunia mereka lebih nyaman dimasuki.

Lihat Chanel. Kampanye Chanel 25 bersama Margot Robbie menunjukkan pergeseran itu. Chanel yang dulu kaku dan menyuruh orang mengagumi dari jauh sudah lewat. Visualnya kini hidup, musikal, modelnya tersenyum lepas. Kode mewahnya tetap dikunci rapat. Quilting dan rantai emas tetap ada. Tapi pesannya berubah. Dari “kagumi dari jauh” menjadi “masuk, ini lingkaran kita”.

Lihat Loro Piana. Mereka tidak menempel logo besar untuk menarik perhatian. Mereka merilis Foulard Handle. Hanya seutas tali kulit kecil yang mengubah syal menjadi tas bahu. Sederhana, tapi cerdas. Produk jadi terasa lebih hidup dan bisa dimainkan, tanpa keluar dari jalur tenang yang jadi ciri mereka.

Lihat Audemars Piguet. Bagi penggemar jam yang puritan, kolaborasinya dengan Swatch mungkin terasa seperti penghinaan. Tapi secara strategi, ini cerdik. Lewat Royal Pop, AP meminjam energi dan keramaian Swatch, lalu menerjemahkan desain kaku Royal Oak menjadi jam warna-warni. AP tidak perlu memproduksi jam murah sendiri. Tapi ia mendapat sesuatu yang jauh lebih sulit dibeli: relevansi di mata anak muda.

Pola ketiganya sama. Mereka tidak menjual dengan jarak. Mereka menjual dengan kedekatan. Ini yang sering luput dibaca. Mewah hari ini bukan soal seberapa rapat pintu ditutup. Mewah hari ini soal seberapa dalam orang merasa terhubung.

Di banyak bisnis, kita masih sering berpikir dengan cara lama. Buat barang yang bagus. Pasang harga tinggi. Lalu tunggu orang berduit datang. Seolah harga mahal saja sudah cukup menjelaskan nilai. Padahal eksklusivitas hari ini tidak bekerja seperti itu. Eksklusivitas bukan soal seberapa ketat kita memilih siapa yang boleh masuk. Eksklusivitas soal seberapa tajam cerita yang dibangun, sampai orang merasa punya ikatan personal saat memegang produk itu. Bukan sekadar membeli benda. Tapi membeli rasa dipahami.

Logika yang sama berlaku untuk produk premium apa pun. Sebuah vila, sepiring makanan kelas atas, sebuah jam, sebuah tas. Yang menentukan bukan lagi seberapa mahal harganya, tapi apakah ia hanya menawarkan fungsi fisik yang dibungkus harga tinggi, atau sudah memberi sebuah dunia yang membuat orang merasa dimengerti.

Kalau cuma yang pertama, itu baru berdagang. Belum membangun brand. Karena barang mahal bisa ditiru siapa saja. Tapi rasa terhubung jauh lebih sulit dibuat. Ia tidak datang dari harga. Ia datang dari cerita yang dibangun pelan-pelan, dan baru terasa setelah orang masuk ke dalamnya.

Sekarang tidak ada nama brand internal, tidak ada pertanyaan ke pembaca, dan penutupnya mendarat di gambar — persis pola Hive Network.

Penutup ini mau dibiarkan tenang seperti sekarang, atau mau kunaikkan sedikit tensinya di kalimat terakhir biar lebih nendang saat dibagikan?

Referensi tulisan dari https://www.instagram.com/p/DZdBX0dDuuY/?igsh=dWMzMDhwaGRqODRw

Ebook SamDK

About The Author

SamDK

Bagi saya menulis merupakan bagian dari proses pembelajaran. Orang belajar biasanya akan membuat catatan-catatan bagi dirinya sendiri. Blog ini, sesungguhnya merupakan “catatan pribadi” yang kadang bersumber dari pengalaman pribadi atau sekedar meresume sebuah buku yang sedang dibaca agar tak lupa. Seperti quote favorit saya dari Ali bin Abi Thalib yang mengatakan “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *