Ketika Merek Berani Mengaku Salah

posted in
on
by

Namanya pratfall effect. Istilah psikologi yang menjelaskan kenapa sebuah merek justru jadi lebih dipercaya saat menunjukkan cacatnya. Bukan saat pamer prestasi. Bukan saat klaim sempurna. Justru saat mengaku tidak bisa, saat menunjukkan luka, saat berhenti berpura-pura.

Merek yang terlalu rapi, terlalu wangi, terlalu tanpa cela, justru dicurigai. Konsumen sekarang lebih tajam dari yang kita kira. Mereka bisa mencium mana yang asli dan mana yang dipoles studio. Kesempurnaan yang berlebihan, di mata mereka, adalah bendera merah. Bukan bendera hijau.

Ingatan lama muncul. Tentang strudel yang gosong sebelah karena oven baru belum genap dikuasai. Tentang varian rasa yang gagal di percobaan ketujuh, delapan, sembilan. Tentang tim yang capek, yang salah hitung stok, yang lupa follow up customer. Semua itu dulu terasa memalukan. Sekarang terasa seperti bahan baku. Bahan baku cerita yang jauh lebih jujur dari brosur mana pun.

Branding yang kuat tidak dibangun dari klaim bisa segalanya. Justru dari keberanian bilang, ini yang kami tidak bisa lakukan. Ini kelemahan kami. Ini yang masih kami perbaiki. Kalimat semacam itu, aneh, malah lebih meyakinkan dari seribu testimoni palsu.

Pendiri bisnis yang berani menunjukkan sisi rapuhnya biasanya yang paling lama diingat pelanggannya. Bukan karena kasihan. Tapi karena manusia mengenali manusia lain lewat lubang-lubang kecil di ceritanya. Lewat bagian yang tidak sempurna itu. Lewat jahitan yang masih kelihatan benangnya.

Cult Brand Psychology mengajarkan hal serupa berkali-kali, dari sudut berbeda. Loyalitas tidak lahir dari kesempurnaan produk. Loyalitas lahir dari kejujuran proses. Dari pengakuan bahwa yang berdiri di depan pelanggan bukan mesin, bukan robot marketing, tapi orang yang juga sering salah, juga sering jatuh, juga sering bangun lagi besok pagi.

Oven yang gosong sebelah itu, sampai sekarang, masih dipakai. Hasilnya kadang belum genap sempurna. Tapi dari sanalah, pelan-pelan, kepercayaan itu tumbuh.

Ebook SamDK

About The Author

SamDK

Bagi saya menulis merupakan bagian dari proses pembelajaran. Orang belajar biasanya akan membuat catatan-catatan bagi dirinya sendiri. Blog ini, sesungguhnya merupakan “catatan pribadi” yang kadang bersumber dari pengalaman pribadi atau sekedar meresume sebuah buku yang sedang dibaca agar tak lupa. Seperti quote favorit saya dari Ali bin Abi Thalib yang mengatakan “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *