CUDA Dibangun Bertahun-tahun Sebelum Ada yang Membutuhkannya
Saya baru selesai baca satu bagian dari buku The Thinking Machine karya Stephen Witt, tentang Jensen Huang dan Nvidia. Buku ini tebal, isinya banyak. Soal gaya kepemimpinan yang keras, soal Jensen yang minta laporan lima hal terpenting dari karyawannya setiap minggu, soal organisasi yang sengaja dibuat datar supaya informasi nggak nyangkut di hierarki. Tapi ada satu bagian yang bikin saya berhenti cukup lama, yaitu soal CUDA.
Buat yang belum familiar, CUDA itu semacam bahasa pemrograman yang dibuat Nvidia supaya GPU, chip yang tadinya cuma dipakai buat render grafis di game, bisa dipakai untuk hitungan komputasi lain. Yang menarik dari cerita di buku ini bukan teknologinya, tapi timing-nya. Nvidia mulai membangun CUDA jauh sebelum ada yang benar-benar membutuhkannya. Pasarnya kecil, developer belum banyak yang tertarik, dan keuntungannya nggak jelas. Kalau dilihat dari kacamata investor yang cuma peduli hasil tahunan, ini proyek yang gampang banget dihentikan.
Tapi Nvidia terus jalan. Mereka bangun alat pemrogramannya, dokumentasinya, library-nya, sampai bina hubungan dengan universitas dan komunitas peneliti. Semua ini selama bertahun-tahun, tanpa kepastian bahwa ini akan berguna. Sampai akhirnya deep learning berkembang, dan orang-orang butuh komputasi paralel dalam skala besar. Saat itu terjadi, Nvidia nggak perlu mulai dari nol. Infrastrukturnya sudah ada, komunitasnya sudah terbentuk.
Nah, di sinilah bagian yang menurut saya paling menarik dari cara Witt menjelaskan Jensen. Ia bilang, hal penting yang membedakan Jensen bukan karena dia berhasil menebak AI akan besar. Banyak orang bisa menebak arah tren, itu gampang, semua orang bisa ngomong “AI akan penting” di tahun yang tepat. Yang jauh lebih sulit adalah membangun kemampuan yang dibutuhkan tren itu, sebelum tren itu benar-benar datang. Beda antara meramal cuaca dengan membangun payung.
Saya jadi mikir, kita sering menganggap “visioner” itu soal siapa yang paling akurat menebak masa depan. Padahal mungkin bukan itu intinya. Orang yang benar-benar unggul bukan yang paling jago meramal, tapi yang paling berani mendanai kapasitas yang belum ada gunanya sekarang, dengan keyakinan bahwa suatu saat akan ada gunanya. Dan ini mahal. Bukan cuma soal uang, tapi soal kesabaran menahan pertanyaan “ini buat apa sih” dari orang-orang di sekitar, bertahun-tahun, tanpa bisa kasih jawaban pasti.
Yang bikin ini makin menarik, Jensen sendiri dikenal sebagai orang yang nggak sabaran dalam hal eksekusi harian. Rapat dengannya katanya bisa terasa seperti ujian terbuka. Tapi untuk hal-hal seperti CUDA, dia bisa nunggu sepuluh sampai lima belas tahun. Jadi ada dua jam berbeda yang jalan bersamaan di kepalanya. Satu jam yang sangat cepat untuk hal-hal operasional, satu jam yang sangat lambat untuk hal-hal strategis. Kebanyakan orang, termasuk saya, biasanya cuma punya satu jam. Kalau lagi sabar, sabar di semua hal. Kalau lagi buru-buru, buru-buru di semua hal juga.
Saya belum tahu persis gimana cara melatih dua jam itu berjalan bareng. Tapi setidaknya sekarang saya punya pertanyaan baru yang lebih spesifik daripada sekadar “apa visi jangka panjang saya”. Pertanyaannya lebih ke: kapasitas apa yang sekarang kelihatan nggak berguna, tapi kalau saya bangun terus tanpa buru-buru minta hasil, mungkin jadi fondasi buat sesuatu yang belum kelihatan?