Perintis vs Pewaris

posted in
on
by

Sedang trend.

Konten-konten yang membandingkan pengusaha pewaris dan perintis.

Lucu-lucu. Sekaligus agak nyesek.

Misalnya ini:

Pewaris buka kedai kopi modal ayahnya 25 miliar. Sekalian beli asetnya. Katanya, biar kalau gagal… asetnya bisa dijual lagi. Untung.

Omsetnya? 10–20 juta sehari. Cukup untuk bayar gaji barista dan beli mobil listrik baru.

Perintis? Buka kedai kopi modal 500 juta saja sudah ngos-ngosan. Bank tidak percaya. Teman cuma bilang, “Kamu ini anak siapa?” Potensi omset sama. Bedanya cuma di start line. Yang satu start di garis depan, yang satu mulai dari parkiran.

Contoh lain:

Pewaris rugi 5–10 miliar di bisnis pertama. Santai. “Itu biaya sekolah bisnisku,” katanya. Sekolah yang SPP-nya bikin kepala saya bergetar.

Perintis rugi 100 juta? Badan panas dingin. Tidur seperti laptop low-batt: sebentar-sebentar mati.

Atau ini: pewaris umumkan mau bisnis. Teman-temannya datang melamar kerja. Perintis umumkan mau bisnis. Teman-temannya datang… melamar supaya dia kembali kerja kantoran.

Tapi di balik tawa itu ada kenyataan. Mentalnya memang beda. Cara mainnya juga beda.

Saya catat ada lima perbedaan. Bukan untuk mengadu. Hanya supaya kita mengerti.

Pertama, orientasi risiko.

Pewaris main aman. Tidak mau uang keluarga terjun bebas. Kalau bisa, uangnya bertumbuh pelan tapi pasti. Ibarat main Monopoli: beli properti di jalur aman, jangan nekat ke kotak “Kesempatan”.

Perintis? Tidak punya bantalan empuk. Jadi berani lompat. Kalau jatuh, sakitnya langsung ke tulang. Tapi kalau nyampe, loncatannya jauh.

Kedua, cara ambil keputusan.

Pewaris punya waktu. Punya tim analis. Keputusan lewat rapat, laporan, dan konsultasi. Selesainya kadang setelah harga pasar sudah berubah.

Perintis? Tidak ada waktu. Kadang juga tidak ada data. Jadi keputusan diambil cepat. Mikir sambil lari. Salah? Ya sudah, ganti haluan.

Ketiga, respon saat gagal.

Pewaris bisa bilang: rugi ini learning cost. Ada tabungan. Ada aset. Masih bisa tidur nyenyak.

Perintis… gagal sedikit saja bisa memikirkan 17 cara untuk bayar utang. Sambil memikirkan 17 cara untuk jelasin ke pasangan.

Keempat, sumber motivasi.

Pewaris: menjaga nama baik keluarga. Meneruskan usaha. Ada beban di pundak.

Perintis: membuktikan diri. Bahwa dari nol pun bisa jadi sesuatu.

Kelima, hubungan dengan orang.

Pewaris lahir sudah kenal banyak orang penting. Investor, partner, bahkan walikota.

Perintis? Harus kenalan dari nol. Kirim pesan LinkedIn dengan pembukaan: “Halo Kak, perkenalkan saya…”

Jadi siapa yang lebih hebat?

Tidak perlu dijawab.

Pewaris punya privilege. Perintis punya mental baja.

Lagipula, kebanyakan pewaris itu anak dari perintis. Yang dulu juga pernah duduk di warung kopi, menghitung koin receh untuk bayar listrik.

Kalau hari ini pewaris dan perintis duduk ngopi bersama, jangan lihat siapa yang bayar. Lihat siapa yang cerita lebih banyak. Itu yang mahal.

Ebook SamDK

About The Author

SamDK

Bagi saya menulis merupakan bagian dari proses pembelajaran. Orang belajar biasanya akan membuat catatan-catatan bagi dirinya sendiri. Blog ini, sesungguhnya merupakan “catatan pribadi” yang kadang bersumber dari pengalaman pribadi atau sekedar meresume sebuah buku yang sedang dibaca agar tak lupa. Seperti quote favorit saya dari Ali bin Abi Thalib yang mengatakan “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *