Beberapa waktu lalu, dalam upaya menyegarkan media informasi wisata Malang Raya kami, Amazing Malang, yang kini telah menginjak usia 10 tahun, saya menciptakan sebuah maskot. Maskot ini saya beri nama Sam Ongis, perwujudan dari semangat arek Malang. Konsepnya adalah seekor singa (sesuai julukan Arema) yang tidak hanya perkasa dan gagah, tetapi juga humoris, memiliki semangat juang (nglitis), dan mampu menjaga api semangat Malang Raya agar tetap menyala, layaknya pahlawan lokal yang membanggakan kotanya. Saya membayangkan Sam Ongis bisa menjadi sosok yang dekat dan inspiratif bagi warga maupun wisatawan.
Di tengah proses pengembangan dan keinginan untuk membuat Sam Ongis benar-benar ‘hidup’, secara tidak sengaja saya menemukan sebuah buku yang terasa begitu relevan: “Creating Characters: How to Build Story People” karya Dwight V. Swain. Menemukan buku ini terasa seperti sebuah kebetulan yang tepat waktu, seolah semesta memberikan panduan lanjutan setelah ide tentang Sam Ongis tercetus. Rasanya seperti mendapatkan peta untuk menjelajahi lebih dalam bagaimana sebuah karakter, bahkan maskot sekalipun, dapat dibangun secara efektif.
Buku karya Swain ini, secara ringkas, mengajarkan dasar-dasar fundamental dalam ‘merakit’ manusia cerita (story people). Intinya, karakter yang kuat harus memiliki sesuatu yang ia pedulikan, diberi label yang jelas namun dikembangkan dengan tag dan sifat unik agar tidak klise, serta memiliki dunia batin (motivasi, tujuan, latar belakang) yang dirasionalisasi agar perilakunya meyakinkan. Buku ini menekankan pentingnya menunjukkan emosi karakter untuk menghidupkannya dan membangunnya melalui detail spesifik serta dialog yang otentik, memberikan kerangka kerja praktis yang sangat berguna untuk mengembangkan Sam Ongis lebih jauh.
Berikut saya resume secara singkat isi buku ini :
1. Menemukan Inti Karakter: Kemampuan untuk Peduli
- Fokuskan karakter pada sesuatu yang ia pedulikan atau anggap penting; ini adalah inti dari karakter yang hidup.
- Tentukan elemen “kepedulian” ini secara spesifik (uang, keluarga, perdamaian, dll.) dan buatlah cukup kuat untuk menggerakkan tindakan karakter.
- Ciptakan situasi dalam cerita yang menantang atau mengancam hal yang dipedulikan karakter tersebut untuk mendorong plot dan pengembangan karakter.
- Utamakan karakter yang simpatik atau setidaknya menarik (bahkan jika jahat) agar pembaca dapat terhubung atau tertarik padanya.
2. Proses Pencarian Karakter yang Tepat untuk Cerita Anda
- Pilih karakter yang menarik minat Anda secara pribadi dan emosional; Anda akan menghabiskan banyak waktu dengannya.
- Rasionalisasikan perilaku karakter: Berikan alasan yang masuk akal (meskipun belum tentu benar secara psikologis) mengapa karakter bertindak seperti itu agar pembaca percaya.
- Pahami bahwa karakter fiksi bukan orang sungguhan, melainkan kreasi yang Anda bentuk agar sesuai dengan kebutuhan cerita dan tampak meyakinkan.
- Untuk merasionalisasi, tempatkan diri Anda di posisi karakter dan adopsi sementara cara pandang mereka, meskipun berbeda dari Anda.
3. Memberi Label untuk Memperkenalkan Karakter dengan Cepat
- Gunakan kesan dominan (kombinasi profesi dan sikap/pembawaan) untuk memberi label awal pada karakter agar mudah dikenali pembaca.
- Fokus pada sikap/pembawaan (kata sifat seperti ‘pemarah’, ‘pemalu’, ‘ceria’) karena ini lebih mengungkapkan kepribadian daripada deskripsi fisik dan memprediksi perilaku.
- Gunakan kontras antara profesi dan sikap (misalnya, profesor bodoh, pengurus jenazah periang) untuk menciptakan karakter yang lebih menarik dan unik.
- Ingat bahwa kesan pertama yang Anda berikan pada karakter sangat kuat; mengubahnya nanti membutuhkan perencanaan.
4. Mengembangkan Karakter Menjadi Lebih Nyata dan Mendalam
- Kembangkan karakter di luar label awal dengan memberinya tag (penanda spesifik seperti nama, ciri fisik unik, pola bicara, mannerisme), trait (sifat/pola perilaku kebiasaan), dan relationship (cara berinteraksi dengan orang lain).
- Gunakan tag yang kontras antar karakter agar mudah dibedakan. Tampilkan tag dalam aksi, bukan sekadar deskripsi.
- Berikan karakter kelemahan atau kekurangan (“non-perfect”) agar lebih manusiawi dan relatable.
- Tunjukkan sifat karakter melalui tindakan spesifik, bukan hanya menceritakannya.
5. Memahami Dunia Batin Karakter Bagian 1: Motivasi dan Keinginan Berubah
- Motif karakter adalah keinginan untuk berubah demi mencapai kebahagiaan (rasa harga diri/bernilai).
- Pahami bahwa kebahagiaan dan ketidakbahagiaan bersifat subjektif dan berbeda untuk setiap karakter; apa yang membuat satu orang bahagia bisa jadi tidak berarti bagi yang lain.
- Pertimbangkan ketakutan sebagai motivator alternatif: apa yang paling ditakuti karakter (kegagalan, tanggung jawab, rasa malu, dll.) dan bagaimana hal itu mendorong tindakannya?.
- Ingat bahwa Anda tidak bisa benar-benar tahu motif orang lain (atau bahkan karakter itu sendiri); fokuslah pada penciptaan rasionalisasi yang meyakinkan untuk cerita Anda.
6. Memahami Dunia Batin Karakter Bagian 2: Arah, Tujuan, Dorongan, dan Sikap
- Berikan karakter arah (kecenderungan umum dalam mencari kebahagiaan melalui petualangan, keamanan, pengakuan, respons, atau kekuasaan).
- Tetapkan tujuan spesifik (umum untuk cerita, langsung untuk adegan) yang muncul dari ketidakpuasan karakter terhadap situasinya. Tujuan ini penting untuk menguji karakter dan menarik dukungan pembaca.
- Pastikan karakter memiliki dorongan (intensitas keinginan untuk mencapai tujuan, rasa “peduli”). Berikan alasan internal atau eksternal mengapa ia tidak bisa menyerah.
- Bentuk sikap karakter (perasaan konsisten tentang subjek/situasi tertentu, atau “hangup”). Sikap dominan terkait tema cerita sangat penting.
7. Memberikan Napas Kehidupan Melalui Pengungkapan Emosi
- Hidupkan karakter dengan membuatnya mengungkapkan emosi, terutama saat stres. Emosi memberi karakter arah dan membuatnya terasa hidup bagi pembaca.
- Emosi karakter bertujuan untuk membangkitkan emosi (empati) pada pembaca. Jual perasaan kepada pembaca Anda.
- Gunakan “kail” (hook) atau “adegan batu loncatan” (springboard scene) di awal untuk segera melibatkan pembaca secara emosional dengan menempatkan karakter dalam bahaya atau situasi menarik.
- Buat karakter disukai dengan membuatnya mirip pembaca dalam beberapa hal (nilai, sikap) dan memberinya keberanian (lebih besar dari kehidupan) untuk menghadapi tantangan.
8. Membentuk Karakter Melalui Latar Belakang Masa Lalunya
- Gunakan latar belakang untuk menjelaskan mengapa karakter seperti itu, memberikan alasan perilakunya, dan membuatnya unik serta mendalam. Berikan hanya secukupnya untuk tujuan cerita.
- Kaitkan sikap atau reaksi kunci karakter dengan satu peristiwa masa lalu yang mudah diingat (jika memungkinkan) untuk dampak dramatis.
- Gali latar belakang dari empat area: tubuh (genetika, fisik, usia, jenis kelamin, kesehatan), lingkungan (sosial, budaya, kelas), pengalaman (peristiwa formatif, trauma, pembelajaran), dan ide (keyakinan, filosofi).
- Ingat bahwa bukan pengalaman itu sendiri yang membentuk karakter, tetapi cara karakter bereaksi dan menafsirkannya. Anda yang memutuskan dampak pengalaman pada karakter Anda.
9. Menciptakan Karakter Unik: Si Eksentrik dan Si “Psiko”
- Gunakan karakter “kartu liar” (eksentrik atau psiko) yang menyimpang dari norma untuk menambah keunikan atau ketegangan. Ciptakan mereka dengan proses yang sama seperti karakter biasa, tetapi dengan penekanan pada penyimpangan mereka.
- Untuk eksentrik: Tentukan bentuk keanehannya, tujuan di baliknya (meskipun dirasionalisasi oleh Anda), dan bagaimana pembaca harus merasakannya. Fokus pada individualitas unik mereka.
- Untuk psiko: Tentukan penyimpangannya, cara ia menyembunyikannya (jika disembunyikan), dan logika (yang mungkin irasional) di balik perilakunya. Pertimbangkan apakah akan masuk ke sudut pandangnya atau tidak.
- Pahami bahwa perilaku irasional seringkali berasal dari emosi yang meluap atau mekanisme pertahanan mentaluntuk mengatasi ketegangan internal. Lakukan riset secukupnya tentang tipe kepribadian agar konsisten.
10. Menyesuaikan Karakter dengan Peran Spesifik dalam Cerita
- Buat karakter menarik dengan memberinya aspek kepribadian yang logis namun tak terduga, mematahkan stereotip.
- Jadikan karakter mudah diingat dengan menekankan dan mengulang-ulang tag atau ciri khas uniknya.
- Pilih karakter sudut pandang dengan hati-hati; ini adalah mata dan hati pembaca dalam cerita. Sudut pandang orang ketiga tunggal (terbatas pada satu karakter per adegan/bab) seringkali paling efektif untuk keseimbangan antara kedalaman emosi dan kejelasan.
- Identifikasi protagonis (yang punya tujuan dan menghadapi bahaya) dan antagonis (yang menentang protagonis, tidak harus jahat). Kekuatan antagonis menentukan kekuatan cerita.
- Berikan kedalaman pada karakter penting (minat cinta, figuran kunci) agar tidak terasa datar atau sekadar pelengkap.
11. Memberikan Sentuhan Ringan dan Humor pada Karakter
- Ciptakan humor dengan menyajikan alternatif tak terduga terhadap asumsi atau ekspektasi (“seharusnya”) pembaca.
- Agar humor efektif, pastikan kontrasnya jelas, alternatifnya aplikatif (masuk akal dalam logika yang menyimpang), dan kejutan datang tiba-tiba (timing tepat).
- Fokuskan humor pada ancaman terhadap kesombongan (vanity), bukan ancaman serius terhadap kebahagiaan atau hidup, agar tidak menyinggung atau mengganggu pembaca.
- Bangun suasana bermain sejak awal jika cerita atau adegan dimaksudkan untuk lucu.
12. Memilih Kata yang Tepat untuk Mendeskripsikan Karakter secara Efektif
- Gunakan detail signifikan dan spesifik untuk mendeskripsikan karakter, bukan generalisasi. Semakin spesifik, semakin hidup.
- Tunjukkan, jangan ceritakan. Berikan pembaca detail sensorik (visual, suara, bau, rasa, sentuhan) agar mereka bisa menarik kesimpulan dan merasakan emosi sendiri.
- Pilih detail deskriptif yang relevan dengan karakter dan cerita, dan sesuaikan dengan sudut pandang karakter yang mengamati.
- Gunakan kata kerja aktif dan perhatikan konotasi kata untuk menciptakan deskripsi yang kuat dan tepat.
13. Membuat Karakter Berbicara Melalui Dialog yang Efektif
- Dialog harus mengungkapkan karakter (latar belakang, kepribadian, pekerjaan), memajukan plot (memberi informasi), dan membangun emosi/konflik.
- Buat dialog terdengar otentik untuk karakter dan situasinya, tetapi hindari transkripsi percakapan nyata yang membosankan atau dialek yang sulit dibaca. Gunakan secukupnya untuk memberi warna.
- Fokuskan dialog pada tujuan karakter (apa yang ingin mereka capai melalui percakapan). Perselisihan lebih menarik daripada persetujuan.
- Gunakan kalimat dan ucapan yang lebih pendek dalam adegan tegang, dan lebih panjang dalam adegan reflektif.
14. Mengadaptasi Karakter untuk Berbagai Panjang Cerita, Media, dan Genre
- Sesuaikan kedalaman dan kompleksitas karakter dengan panjang cerita. Cerpen membutuhkan fokus pada satu aspek; novel memungkinkan eksplorasi lebih luas (tapi tidak wajib).
- Untuk cerita berlatar waktu/tempat spesifik (genre), riset dan pahami aturan, ekspektasi, dan normagenre/periode tersebut agar karakter terasa pas.
- Adaptasi karakter untuk media non-cetak (audio, panggung, film/TV) dengan memahami batasan dan keunggulan masing-masing medium (misalnya, fokus pada suara di radio, visual dan closeup di film).
15. Menghidupkan Karakter dari Dunia yang Tidak Dikenal Pembaca
- Untuk karakter dari masa lalu, masa depan, atau subkultur kontemporer yang berbeda, kuncinya adalah memahami dan menyampaikan dunia/lingkungan unik mereka dan bagaimana hal itu membentuk sikap dan perasaan mereka.
- Lakukan riset untuk memahami norma sosial, keyakinan, teknologi, dan detail sensorik dari dunia karakter tersebut agar terasa otentik.
- Sajikan perbedaan budaya/waktu ini melalui reaksi emosional dan perilaku karakter terhadap lingkungannya, bukan sekadar penjelasan fakta.
Semoga resume ini juga bisa membantu anda yang sedang membuat sebuah karakter untuk brand anda!