Catatan ringan seputar bisnis, traveling dan komunitas

Menu & Search

Pak Purdie Tetap BOTOL, BODOL dan Ngocol….

Minggu kemarin dalam perjalanan saya ke Surabaya untuk mengikuti pelatihan SNI, tiba-tiba saya ditelepon seorang teman dan diajak untuk sarapan bersama Pak Purdie yang kebetulan semalam selesai mengisi sebuah seminar kewirausahaan.

Bulan lalu, di Pesta Wirausaha 2010, setelah 5 tahun lamanya tidak melihat seminar beliau (sejak 2005) Pak Purdie membawakan materi yang sudah banyak perubahan dibanding materi seminar 5 tahun silam. Kali ini yang ditekankan lebih banyak sedekah dan faktor spirituil dalam bisnis. Sebenarnya 5 tahun lalu juga begitu menurut saya, faktor sedekah ini adalah prioritas pertamanya, namun peserta lebih terbawa ke konsep BOTOL, BODOL, BOBOL, dan BOL lainnya…

Dan kemarin, saat ngobrol-ngobrol santai di mobil saya sembari jalan ke bandara, ada banyak gagasan menarik dalam berbisnis. Ternyata bisnis itu memang mudah, semudah kita menjalankan hobi. Bahkan menurut Pak Purdie, menjalankan bisnis itu (maaf) senikmat orgasme. Pesan yang saya tangkap disini, bahwasannya bisnis harus dimulai dari rasa ‘suka’ dahulu hingga menjadi bergairah untuk melakukannya. Intinya kita harus memiliki ‘passion’ dalam bidang bisnis yang kita geluti, tidak sekedar ikut-ikutan saja.

Dalam pro kontra konsep bisnis yang ditawarkan oleh Pak Purdie, saya lebih melihatnya dalam perjalanan bisnis beliau membesarkan Primagamanya yang sudah lebih dari 30 tahun. Pengusaha pemula (yg biasanya adalah peserta seminarnya yang begitu termotivasi dan akhirnya menggebu-gebu agar sukses dalam waktu yg instan) biasanya salah mengartikan konsep bisnis yang ditawarkan pak Purdie.

Konsep BOTOL misalnya,
Menurut Pak Purdie BOTOL adalah Berani Optimis Tenaga Orang Lain dimana dalam menjalankan bisnis kita tidak perlu ahli dalam bidangnya, dan karena tidak ahli kita bisa ‘menggunakan’ tenaga orang lain untuk melakukannya. Saya rasa betul juga konsepnya, selama kita bisa menghargai tenaga orang lain untuk melakukan pekerjaan yang kita tidak punya skill disitu, sah-sah aja kan? Saya sendiri merasa kurang dalam ilmu accounting, akhirnya saya menggaji staff accounting. Atau pada bulan kemarin, karena saya tidak tahu tentang ilmu printing, akhirnya saya hanya sebagai investor pada bisnis printing di Jakarta yang dijalankan oleh ahlinya. Dan hasilnya cukup bagus…

Konsep BODOL,
Berani Optimis Duit Orang Lain, bagus juga menurut saya. Berbisnis tidak harus menggunakan uang kita sendiri. Kita bisa ‘meminjam’ uang orang lain, atau menawarkan konsep investasi. Saya sendiri seringkali dalam pembiayaan project -project besar (apalagi waktunya bersamaan dalam 1 bulan) tentu membutuhkan modal yang besar pula. Dan biasanya karena modal saya sendiri tidak mencukupi, saya menawarkan program investasi kepada teman-teman terdekat dengan pola pengembalian hasil investasi yang sama-sama menguntungkan. Saya untung karena project tetap bisa jalan dan menghasilkan profit, dan investor juga untung karena profit yang didapat jauh lebih besar jika uang tersebut disimpan di bank.

Konsep malas dalam berbisnis,
Malas bukan berarti kita tidak melakukan apa-apa dalam bisnis lantas bisnis kita bisa jalan sempurna. Menurut saya konsep malas adalah tujuan kita berbisnis. Dengan kita bertujuan ‘malas’ maka kita harus bekerja keras dahulu memberikan delegasi ke tim bisnis kita. Saat delegasi tersebut sudah berhasil, baru kita bermalas-malasan. Dulu saya bekerja keras mendelegasikan divisi produksi IT saya agar setiap bulan bisa membuat konsep, mengatur jadwal produksi hingga melaunching beberapa produk setiap bulan. Setelah ‘kerja keras’ itu erhasil, sekarang saya benar-benar malas mengerjakan tugas tersebut karena sudah ada yang menangani. Dan karena kemalasan mengurusi hal tersebut, kita tidak terjebak dalam rutinitas bisnis sehingga bisa menilai bisnis kita secara obyektif lagi karena bisa melihatnya dari sudut pandang yg lain.

Beberapa konsep-konsep bisnis diatas, yang diimplementasikan oleh para pemula yang terbakar semangat bisnis dan ingin segera menuai kesuksesan dalam waktu instan, akhirnya menjadi bumerang bagi dirinya sendiri. Banyak sekali teman-teman saya dahulu yang akhirnya terjerembab dalam ‘duka’ karena salah mengartikannya.

Ada yang menawarkan konsep BODOL dengan meminjam uang teman atau bahkan pinjaman bank, tapi bisnis yang dijalankannya belum stabil. Ada yang menjalankan konsep BOTOL, tapi intinya hanya menipu teman dengan memanfaatkan Tenaga dan Ilmunya, sementara dia ternyata tidak bisa menggajinya sesuai dengan kapasitasnya. Atau bahkan yang menerapkan ilmu malasnya saja sehingga kelihatan sukses tapi tipu sana tipu sini. Dan kasus ini ternyata banyak terjadi hingga sekarang.

Dan kemarin sewaktu berbincang bincang di mobil saya, Pak Purdie bagi saya tetap menarik seperti 5 tahun silam. Ide-ide bisnis yang diutarakannya benar-benar ringan, mudah dan aplikatif. Meskipun ide-idenya biasanya out of the box, tapi jika dijalankan dengan konsep amanah dengan saling menguntungkan semua pihak, hasilnya saya yakin pasti luar biasa. Botol, Bodol, Bofol, Bopol, dan tetap ngocol ya pak…?

Related article
Bagaimana cara membuat gerakan donasi yg efektif di kala pandemi ?

Bagaimana cara membuat gerakan donasi yg efektif di kala pandemi ?

Berbagi pengalaman membuat campaign donasi yg efektif untuk kegiatan sosial.…

Rahasia perusahaan-perusahaan berusia panjang

Rahasia perusahaan-perusahaan berusia panjang

Salah satu yg membuat perusahaan2 Jepang bisa bertahan lama hingga…

Sense of Crisis, pelajaran utama dari Pandemi Corona

Sense of Crisis, pelajaran utama dari Pandemi Corona

Belajar memiliki “sense of crisis” itu ternyata mahal banget ya…

Discussion about this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Type your search keyword, and press enter to search