Mengapa Personal Branding Lebih Penting Daripada Corporate Branding

Personal branding. Ah, ini topik yang hangat di era digital sekarang. Kenapa personal branding lebih kuat daripada branding bisnis? Sederhana saja. Manusia lebih mudah terhubung dengan manusia lain daripada dengan sebuah entitas bisnis.

Contohnya, Kim Kardashian. Siapa yang tidak kenal dia? Di Instagram, Kim punya 364 juta pengikut. Sedangkan merek pakaian miliknya, Skims, cuma punya 5,5 juta pengikut. Kenapa begitu? Karena orang lebih tertarik dengan Kim, si manusia nyata, daripada sekadar sebuah merek pakaian. Orang ingin tahu tentang kehidupan Kim, bukan cuma bajunya.

Lalu ada Gary Vaynerchuk. Atau yang lebih dikenal dengan Gary Vee. Gary punya 10,1 juta pengikut di Instagram. Tapi agensinya, VaynerMedia? Hanya 253 ribu pengikut. Orang-orang lebih suka mendengar kata-kata bijak dan motivasi dari Gary langsung. Bukan dari perusahaan yang dia dirikan. Gary itu seperti sahabat yang selalu memberikan nasihat, dan itu yang membuatnya lebih dekat dengan pengikutnya.

Begitu juga dengan Richard Branson. Pengusaha eksentrik ini punya 4,9 juta pengikut di Instagram. Merek Virgin? Hanya 244 ribu pengikut. Orang lebih tertarik pada petualangan dan cerita hidup Richard Branson. Mereka merasa lebih terhubung dengan kisah pribadinya daripada dengan produknya.

Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Bahkan sejak zaman dulu, manusia lebih mempercayai rekomendasi dari teman. Menurut Fortune, 92% konsumen lebih percaya rekomendasi teman daripada iklan. Ini menunjukkan bahwa kepercayaan itu dibangun dari hubungan pribadi.

Lihat saja Jessica Alba. Dia membangun The Honest Company, bisnis bernilai miliaran dolar, dengan memanfaatkan pengaruh pribadinya. Orang percaya pada Jessica dan visi ramah lingkungannya. Bukan sekadar produk yang dia jual.

Di era sekarang, media sosial adalah kartu nama baru. Perusahaan-perusahaan juga tahu ini. Mereka memeriksa profil media sosial calon karyawan sebelum merekrut. Menurut Harvard Business Review, 70% pengusaha melakukan ini, dan 54% di antaranya menolak pelamar karena apa yang mereka temukan.

Jadi, bagaimana cara membangun personal branding yang kuat? Konsistensi adalah kuncinya. Posting konten secara teratur. Dengarkan audiens Anda. Coba berbagai jenis konten dan lihat mana yang paling efektif. Tony Fadell, pencipta iPod, selalu mendengarkan umpan balik pelanggan untuk terus meningkatkan produknya.

Jeff Bezos juga mengerti ini. Dia meluncurkan Amazon Prime dan memposisikan dirinya sebagai pemimpin di industri e-commerce dengan belajar dari pesaingnya. Dia tidak hanya fokus pada produk, tetapi juga pada membangun hubungan dengan pelanggan.

Personal branding juga tentang mengatasi ketakutan dan keraguan. Rintangan adalah bagian dari perjalanan. Ryan Holiday bilang, “THE OBSTACLE IS THE WAY.” Rintangan itulah yang membuat kita tumbuh dan berkembang.

Dengan dedikasi dan konsistensi, personal branding bisa memberikan pengaruh yang besar. Ini bukan hanya tentang menjadi populer, tapi juga tentang menciptakan nilai dan membangun kepercayaan. Dengan memanfaatkan media sosial secara efektif, siapa pun bisa mengembangkan personal branding yang kuat dan berdampak.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *