Quicksilver, Billabong, dan Volcom: Dari Simbol Gaya Hidup Pantai hingga Gulung Tikar di Era Gen Z

posted in
on
by

Di era 2000-an, Quicksilver, Billabong, dan Volcom bukan sekadar merek pakaian—mereka adalah simbol gaya hidup pantai yang bebas, rebel, dan cool. Logo ombak Quicksilver, celana boardshort Billabong, atau hoodie Volcom pernah menjadi must-have items bagi para pencinta surfing, skateboard, atau sekadar anak muda yang ingin terlihat “keren”. Namun, pada Februari 2025, ketiga merek ini mengumumkan penutupan seluruh gerai fisiknya di Amerika Serikat, menandai akhir dari era kejayaan mereka .


Masa Kejayaan yang Terkikis oleh Perubahan Zaman

Pada puncaknya, Quicksilver, Billabong, dan Volcom menguasai pasar apparel bertema pantai dan olahraga ekstrem. Liberated Brands, operator gerai fisik mereka, bahkan memperluas jaringan dari 67 menjadi 140 gerai selama pandemi COVID-19, ketika aktivitas luar ruangan dan belanja online meningkat . Namun, pasca-pandemi, tekanan ekonomi global—seperti inflasi, kenaikan suku bunga, dan gangguan rantai pasokan—membuat bisnis mereka terjungkal. Liberated Brands akhirnya mengajukan kebangkrutan Chapter 11, menutup 124 gerai di AS dan merumahkan 1.400 karyawan .

Faktor utama kehancuran ini adalah persaingan dengan fast fashion. Todd Hymel, CEO Liberated Brands, menyatakan bahwa merek-merek seperti Shein dan Zara mampu menawarkan pakaian murah dengan tren terkini, sementara Quicksilver dkk. terjebak dalam biaya operasional gerai fisik yang tinggi dan desain yang kurang inovatif . Konsumen Gen Z, yang lebih hemat dan dinamis, beralih ke opsi yang lebih terjangkau dan sesuai dengan preferensi gaya hidup digital.


Gen Z: Generasi yang Menuntut Lebih dari Sekadar Produk

Gen Z (lahir 1997–2012) bukanlah generasi yang mudah dipuaskan dengan nostalgia. Mereka mencari merek yang autentik, berkelanjutan, dan selaras dengan nilai-nilai sosial. Survei Deloitte 2024 menunjukkan 86% Gen Z memprioritaskan pekerjaan yang bermakna dan selaras dengan prinsip hidup mereka . Sayangnya, Quicksilver, Billabong, dan Volcom gagal membaca perubahan ini:

  1. Kurangnya Komitmen pada Isu Lingkungan
    Gen Z sangat peduli pada keberlanjutan. Mereka cenderung memilih merek yang menggunakan bahan daur ulang atau mendukung kampanye lingkungan. Namun, ketiga merek ini tidak secara masif menggaungkan praktik ramah lingkungan, sehingga kalah bersaing dengan pesaing seperti Patagonia atau Reformation .
  2. Kegagalan Membangun Komunitas Digital
    Gen Z hidup di dunia media sosial, tetapi Quicksilver dkk. tidak maksimal memanfaatkan platform seperti TikTok atau Instagram. Konten mereka cenderung statis, kurang kolaborasi dengan influencer, dan tidak melibatkan audiens melalui user-generated content (UGC). Padahal, 60% Gen Z lebih percaya rekomendasi dari influencer daripada iklan tradisional .
  3. Citra “Eksklusif” yang Tidak Lagi Relevan
    Gen Z mengutamakan inklusivitas dan keberagaman. Sayangnya, citra “rebel” Quicksilver dan Volcom yang terlalu maskulin dan terkesan eksklusif tidak sesuai dengan nilai generasi yang menghargai kesetaraan gender dan representasi .

Pembelajaran untuk Merek yang Ingin Bertahan

Kisah tiga merek legendaris ini menjadi cermin bagi pelaku bisnis: adaptasi adalah kunci survival. Berikut pelajaran yang bisa dipetik:

  1. Tinggalkan Model Bisnis Usang
    Liberated Brands mempertahankan gerai fisik yang “terlalu banyak dan tidak menguntungkan” . Padahal, Gen Z lebih nyaman berbelanja online. Merek perlu mengoptimalkan e-commerce dan mengurangi ketergantungan pada gerai fisik .
  2. Rebranding dengan Nilai Gen Z
    Lakukan rebranding untuk menyasar isu keberlanjutan, inklusivitas, dan transparansi. Contohnya, Allbirds sukses menarik Gen Z dengan sepatu ramah lingkungan dan kampanye “#WeAreAllbirds” yang mendorong keberagaman.
  3. Kolaborasi dengan Komunitas Digital
    Bangun hubungan dengan Gen Z melalui platform seperti TikTok. Misalnya, Gymshark membangun komunitas fitness global lewat konten edukatif dan kolaborasi dengan micro-influencers.
  4. Responsif terhadap Tren Sosial
    Gen Z vokal tentang keadilan sosial dan mental health. Merek seperti Glossier sukses dengan kampanye #NormalizeNormalSkin yang mendukung body positivity.
  5. Investasi pada Teknologi dan Data
    Manfaatkan AI untuk analisis preferensi konsumen dan personalisasi produk. Nike, misalnya, menggunakan aplikasi SNKRS untuk limited-edition drops yang digemar Gen Z.

Masa Depan Quicksilver, Billabong, dan Volcom

Meski gerai fisik tutup, ketiga merek ini tidak benar-benar hilang. Authentic Brands Group, pemilik merek, telah memindahkan lisensi ke operator baru yang akan fokus pada penjualan melalui department store, e-commerce, dan retailer khusus . Langkah ini bisa menjadi kesempatan untuk membangun kembali citra dengan strategi yang lebih segar—jika mereka belajar dari kesalahan masa lalu.


Kesimpulan

Quicksilver, Billabong, dan Volcom mengajarkan bahwa kesuksesan masa lalu bukanlah jaminan keberlangsungan di masa depan. Di era di mana Gen Z menguasai 40% pasar konsumen global, merek harus terus berinovasi, mendengarkan aspirasi generasi muda, dan berani bertransformasi. Seperti kata pepatah, “Adapt or perish”—dan dalam dunia bisnis yang dinamis, ini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.

Ebook SamDK

About The Author

SamDK

Bagi saya menulis merupakan bagian dari proses pembelajaran. Orang belajar biasanya akan membuat catatan-catatan bagi dirinya sendiri. Blog ini, sesungguhnya merupakan “catatan pribadi” yang kadang bersumber dari pengalaman pribadi atau sekedar meresume sebuah buku yang sedang dibaca agar tak lupa. Seperti quote favorit saya dari Ali bin Abi Thalib yang mengatakan “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *