Beberapa hari ini berada di China untuk bertemu dengan salah satu pabrikan amusement park terbesar di dunia.
Di sela-sela diskusi, ada satu kalimat yang cukup menggelitik.
“Amusement park di China sekarang tidak terlalu bagus. Persaingan hidup di sini terlalu ketat.”
Awalnya terdengar aneh.
Bukankah China adalah negara dengan populasi lebih dari satu miliar orang? Bukankah kota-kotanya penuh gedung tinggi, teknologi, dan aktivitas ekonomi yang luar biasa?
Namun setelah dijelaskan, logikanya mulai masuk akal.
Ketika persaingan hidup semakin ketat, jam kerja semakin panjang. Ketika jam kerja semakin panjang, waktu luang semakin sedikit. Ketika waktu luang semakin sedikit, orang tidak lagi punya cukup ruang untuk sekadar bermain.
Akhir pekan yang seharusnya menjadi waktu keluarga, bagi sebagian orang berubah menjadi waktu mengejar target berikutnya.
Tidak heran jika beberapa proyek amusement park di Indonesia justru dinilai lebih menarik secara bisnis.
Alasannya sederhana.
Masyarakat Indonesia masih punya ruang untuk menikmati hidup.
Masih ada keluarga yang sengaja pergi berwisata di akhir pekan. Masih ada orang tua yang rela mengajak anak bermain seharian. Masih ada kebiasaan berkumpul, jalan-jalan, dan mencari pengalaman bersama.
Kadang kita merasa hidup di Indonesia sudah sangat kompetitif.
Harga naik.
Bisnis semakin ketat.
Lapangan kerja semakin sulit.
Target demi target terus bertambah.
Namun setelah melihat langsung bagaimana ritme kehidupan di China, rasanya tekanan yang kita rasakan hari ini mungkin masih belum seberapa.
Refleksi itu semakin terasa ketika terbang dari Surabaya menuju Guangzhou kemarin.
Sekitar 90 persen penumpang di pesawat adalah warga China.
Jumlah itu membuat satu pertanyaan muncul di kepala.
Jika dalam satu penerbangan saja sebanyak itu, berapa banyak sebenarnya warga China yang setiap hari keluar masuk Indonesia?
Sebagian datang sebagai investor.
Sebagian datang sebagai teknisi.
Sebagian datang sebagai pekerja.
Sebagian datang membawa produk, teknologi, modal, dan pengalaman dari pasar yang tingkat persaingannya mungkin jauh lebih keras daripada yang kita bayangkan.
Mungkin inilah yang belum sepenuhnya kita sadari.
Ketika sebagian masyarakat Indonesia masih merasa hidup sudah sangat berat, di luar sana ada jutaan orang yang tumbuh dalam kompetisi yang jauh lebih brutal.
Mereka dipaksa bergerak lebih cepat.
Belajar lebih cepat.
Beradaptasi lebih cepat.
Dan ketika pasar dalam negeri mereka semakin sulit, mereka mulai mencari peluang ke luar negeri.
Termasuk ke Indonesia.
Tentu ini bukan soal takut kepada China.
Ini juga bukan soal siapa yang lebih hebat.
Tetapi tentang kesadaran bahwa dunia sedang berubah sangat cepat.
Pertanyaannya bukan lagi apakah persaingan akan datang.
Persaingan itu sudah datang.
Pertanyaannya adalah, apakah kita menyadarinya?
Ataukah kita masih merasa nyaman karena hari ini semuanya terlihat baik-baik saja?
Karena bisa jadi, dalam 2 sampai 5 tahun ke depan, kita baru menyadari bahwa gelombang besar itu sebenarnya sudah mulai datang sejak sekarang.
Dan saat itu terjadi, yang membedakan bukan siapa yang paling pintar.
Tetapi siapa yang paling siap.