Mark Zuckerberg, yang hampir setiap hari pakai kaus abu-abu polos yang sama, sekilas terlihat seperti orang biasa saja. Tapi di balik penampilannya yang sederhana itu, ada rencana yang matang.
Pakaian sederhana itu membuatnya gampang ‘menghilang’ di keramaian. Dia seperti bersembunyi di depan mata, sengaja menghindari perhatian yang tidak perlu.
Namun, ceritanya beda total kalau sudah bicara soal kendaraan. Saat dia membuka pintu garasi, pilihannya langsung berubah: Ferrari. Pagani. Tesla edisi spesial. Mobil-mobil mewah yang harganya miliaran rupiah ini jelas menunjukkan satu hal: dia bukan cuma sekadar ada, tapi dia menegaskan posisinya di puncak.
Kebanyakan orang kaya suka pamer kekayaan dengan logo merek besar di baju supaya terlihat ‘wah’ di mata banyak orang.
Tapi Zuck dan orang-orang super kaya lainnya punya cara berbeda. Mereka pamer (flexing) bukan untuk kelihatan kaya di depan umum, melainkan untuk menjaga dan menunjukkan kekuasaan mereka.
Sebab, bagi kalangan mereka, mobil itu bukan sekadar alat transportasi. Itu adalah pesan terselubung kepada sesama orang elit, yang bunyinya kira-kira: “Aku ada di level yang sama denganmu, atau bahkan di atasku.”
Mobil mewah itu bukan sekadar gaya-gayaan. Itu adalah alat penting dalam ‘perang’ status di antara mereka. Sebuah sinyal yang ditujukan khusus untuk orang-orang yang mengerti ‘kode’ ini. Bukan untuk dilihat publik, tapi untuk orang-orang yang benar-benar perlu tahu di mana posisinya.
Jadi, penampilan Zuckerberg yang super sederhana dan pilihan mobilnya yang super mewah itu bukanlah dua hal yang bertolak belakang. Keduanya adalah bagian dari satu strategi yang utuh: Tidak terlihat di depan orang yang salah, dan menonjol di depan orang yang tepat.
Karena dalam ‘permainan’ kekuasaan, siapa yang tahu kapan harus terlihat dan kapan harus menghilang, dialah yang akan bertahan paling lama.