Catatan ringan seputar bisnis, traveling dan komunitas

Menu & Search

Gagal Itu Keren!

Dalam sebuah sesi sharing bisnis, Pak Haji Alay salah satu founder komunitas Tangan Di Atas mengatakan bahwa orang bisnis kalau belum gagal itu tidak keren. Maksudnya, dalam bisnis tidak ada istilah GAGAL, yang ada adalah istilah “BELAJAR”, karena dengan kegagalan berarti kita belajar agar tidak terperosok ke dalam lubang yang sama, yang juga berarti salah satu kemajuan┬ádibanding orang yang belum pernah gagal.

Dan semua pebisnis besar pasti pernah gagal. Sama seperti ketika kita dulu belajar bersepeda, pastilah pernah jatuh. Namun dengan tekad yang kuat ntuk bisa bersepeda, meskipun berulang kali jatuh dan dengan berdarah-darah tetap kita mau belajar bersepeda hingga BISA! yang sekali jatuh dari sepeda kemudian tidak melanjutkankannya DIJAMIN sampai sekarang belum bisa naik sepeda!

Dalam sebuah seminar bisnis yang lain, Om Bob Sadino pernah bilang: “Saya berbisnis justru mencari gagal, bukan sukses. Bagi saya gagal – sukses itu hanyalah permainan probabilitas. Semakin banyak gagal, tentu semakin banyak suksesnya. Gak mungkin gagal terus”. Nah?

 

Dalam kehidupan sosial, memang kegagalan itu adalah sebuah kata yang tidak begitu enak untuk didengar. Kegagalan bukan sesuatu yang disukai, dan suatu kejadian yang setiap orang tidak menginginkannya. Kita tidak bisa memungkiri diri kita, yang nyata-nyata masih lebih suka melihat orang yang sukses dari pada melihat orang yang gagal, bahkan tidak menyukai orang yang gagal.

Maka, bila Anda seorang entrepreneur yang menemui kegagalan dalam usaha, maka jangan berharap orang akan memuji Anda. Jangan berharap pula orang di sekitar anda maupun relasi Anda akan memahami mengapa Anda gagal.

Jangan berharap Anda tidak disalahkan. Jangan berharap juga semua sahabat masih tetap berada di sekeliling Anda. Jangan berharap Anda akan mendapat dukungan moral dari teman yang lain. Jangan berharap pula ada orang yang akan meminjami uang sebagai bantuan sementara. Jangan berharap bank akan memberikan pinjaman selanjutnya.

Begitulah masyarakat kita, cenderung memuji yang sukses dan menang. Sebaliknya, menghujat yang kalah dan gagal. Kita sebaiknya mengubah budaya seperti itu, dan memberikan kesempatan kepada setiap orang pada peluang yang kedua.

Pengalaman saya sendiri, dari puluhan model bisnis yang coba saya jalani, hanya beberapa saja yang berhasil. Rupanya teori probabilitas gagal-berhasilnya om Bob Sadino memang benar. Meski hanya sedikit yang berhasil, setidaknya saya sudah melangkah maju duluan, makin banyak yang dicoba, makin besar peluang berhasilnya. Bagaimana dengan anda ?

 

 

 

Related article
Bagaimana cara membuat gerakan donasi yg efektif di kala pandemi ?

Bagaimana cara membuat gerakan donasi yg efektif di kala pandemi ?

Berbagi pengalaman membuat campaign donasi yg efektif untuk kegiatan sosial.…

Rahasia perusahaan-perusahaan berusia panjang

Rahasia perusahaan-perusahaan berusia panjang

Salah satu yg membuat perusahaan2 Jepang bisa bertahan lama hingga…

Sense of Crisis, pelajaran utama dari Pandemi Corona

Sense of Crisis, pelajaran utama dari Pandemi Corona

Belajar memiliki “sense of crisis” itu ternyata mahal banget ya…

Discussion about this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Type your search keyword, and press enter to search