Catatan ringan seputar bisnis, traveling dan komunitas

Menu & Search

Siapa yang mendorong saya?

Alkisah seorang bangsawan yg kaya raya pada suatu malam melangsungkan pesta kebun besar-besaran. Hajatan itu bertujuan untuk mencarikan jodoh putri semata wayangnya. Tidak heran, jika yg diundang adalah keluarga2 yg memiliki anak beranjak dewasa. Tuan rumah telah menyiapkan kolam yg diisi dengan ular liar berbisa dan buaya. Kemudian ia menantang para tamunya untuk berenang ke seberang kolam tsb. Barangsiapa yg berhasil menyeberangi kolam, ia akan diberi opsi pilihan hadiah yg dapat mereka pilih.

Pertama, berhak menikahi putri semata wayangnya. Kedua, memperoleh seratus ribu hektar kebun kelapa sawit. Dan ketiga, berhak atas uang 1 Miliar rupiah. Tantangan itu bertujuan menjaring calon2 menantu yg berani dan memiliki dedikasi tinggi terhadap keluarga.

Belum selesai si tuan rumah memberi sambutan untuk lomba tsb, tiba2 terdengar bunyi ceburan air yg cukup keras dan disusul oleh gerakan renang yg begitu cepat sepanjang kolam. Semua mata terpaku takjub dan heran, siapa gerangan orang yg begitu antusias untuk mengikuti pertandingan yg dimaksudkan. Akhirnya orang tsb sampai ke tepian sambil terengah-engah dengan tubuh penuh goresan. Sang tuan rumah beserta putrinya begitu senang melihat respon proaktif yg diberikan si pemuda gagah berani itu.

Di hadapan seluruh tamu yg hadir, si pemuda ditanya hadiah apa yg diinginkannya. Si Pemuda hanya geleng-geleng kepala. Dengan penasaran tuan rumah bertanya, “Kalau begitu apa yg anda inginkan?”

Dengan nafas yg masih terengah-engah si pemuda menjawab dengan mantap, “saya hanya ingin tahu, siapa yg mendorong saya ke kolam tadi?”

Dalam memulai bisnis sangat diperlukan dorongan (motivasi) yg kuat untuk membuat kita lebih berani dalam untuk memenuhi kebutuhannya. Dorongan ini adalah keberanian untuk bertindak.

Dulu saat saya memulai bisnis sewaktu kuliah, salah satu upaya berani menjadi seorang pebisnis adalah┬ádorongan yang kuat untuk membiayai sendiri kuliah waktu itu. Kuliah IT di tahun 2000-an biayanya sangat mahal, jadi harus mau tidak mau mencari uang tambahan untuk biaya kuliah tersebut. Dan setelah “kecemplung” dalam kolam wirausaha, hingga sekarang makin banyak “gaya renang” yang bisa dikembangkan.

Salam kecemplung!

 

Related article
Sense of Crisis, pelajaran utama dari Pandemi Corona

Sense of Crisis, pelajaran utama dari Pandemi Corona

Belajar memiliki “sense of crisis” itu ternyata mahal banget ya…

Tiga Kombinasi Sempurna Membangun Bisnis Sukses

Tiga Kombinasi Sempurna Membangun Bisnis Sukses

Bisnis sama halnya dengan bermain panahan. Untuk melontarkan anak panah…

Pintar dan Bodoh

Pintar dan Bodoh

Sesi sharing Prof Rhenald Kasali di sebuah seminar bisnis: ada…

Discussion about this post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Type your search keyword, and press enter to search